Saturday, August 7, 2010

Mengurangi Dampak Stres Usai Gempa


Dampak trauma akibat gempa bagi kehidupan seseorang bisa jadi sangat luar biasa. Tak jarang gangguan emosi, pecahnya konsentrasi, hingga goncangan pribadi dialami.

Karena itu, dr Tony Setiabudhi, SpKJ dari Mitra International Hospital menyarankan agar pemerintah menyebarluaskan pengetahuan mengenai stres pascatrauma ini dan cara mengatasinya. Para pemuka agama, pemuka masyarakat, bidan, perawat, guru-guru, dan orangtua dalam hal ini berperan penting.

Post Traumatic Syndrome Disorder atau stres pascatrauma yang kerap terjadi pada korban gempa dapat diatasi dengan rileksasi. Mulailah dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sambil menyebut huruf s perlahan sehingga perasaan menekan di dada menjadi rasa nyaman. Latihan ini sebaiknya didampingi. Satu hari sebaiknya dilakukan minimal pagi-sore sekitar 10 menit.

Untuk mereka yang fobia hingga tidak berani keluar rumah, Tony menyarankan agar penderita dirawat dan dilatih perlahan-lahan dengan proses desensitisasi. Pertama-tama, individu akan diajak pergi keluar bersama-sama di suatu tempat. Setelah tenang dan mulai terbiasa, penderita disarankan menempuh jalan yang berbeda dengan sang terapis dan bertemu di suatu tempat yang sudah direncanakan. Demikian selanjutnya, sampai ia berani sendiri. Perlahan, jalur yang ditempuh diperluas. Latihan bisa dilakukan beberapa kali dalam sehari.

Sementara anak korban gempa sebaiknya dikembalikan ke tempat asal. Mereka mesti diajak ke lingkungan terdahulu dan familiar. Jika lingkungan dan orang di sekitarnya sudah tidak ada, anak bisa diajak ke tempat baru dan mulai hidup baru.

Jika gangguan psikis ini memparah kondisi korban gempa hingga tidak bisa tidur misalnya, maka terapi farmakologis (terapi obat) diperlukan. Penderita bisa diberi anxiolitika seperti diazepam. Kalau gangguan ini sudah mencapai depresi, penderita akan diberi obat depresi.

WAWANCARA KERJA Menjawab dengan cerdas, taktis dan optimis

Meski anda merasa pintar dan brilian, jangan keburu yakin bahwa semua pintu perusahaan akan terbuka secara otomatis untuk anda. Sebab kenyataannya, para tuan dan nyonya pintar ini seringkali gagal dalam wawancara. Alasannya ? tidak smart dan taktis dalam menjawab pertanyaan.

1. Ceritakan tentang diri anda
Erina Collins, seorang agen rekruitmen di Los Angeles menyatakan seringkali ada perbedaan yang mengejutkan antara ketika kita membaca lamaran seseorang dengan saat berhadapan dengan si pelamar.

"Pengalaman menunjukkan, surat lamaran yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa pelamarnya juga sama optimisnya," kata Erina. Ketika pewawancara menanyakan hal yang sederhana seperti "Di mata anda, siapa anda?" atau "Ceritakan sesuatu tentang anda", banyak pelamar menatap pewawancaranya dengan bingung dan lalu seketika menjadi tak percaya diri.

"Saya merasa biasa-biasa saja" atau "tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang diri saya" seringkali menjadi jawaban yang dipilih pelamar sebagai upaya merendahkan diri. Selama ini banyak artikel karir konvensional yang menyarankan agar anda sebaiknya merendahkan diri sebisa mungkin, sebagai upaya mencuri hati si pewawancara.

"Tapi ini jaman modern. Jawaban yang terlalu merendah dan banyak basi-basi hanya menunjukkan bahwa anda sebenarnya tidak yakin dengan diri anda. Dan perusahaan masa kini tidak butuh karyawan seperti itu," tegas Erina.

Pengalaman Eliana Burthon, staf humas sebuah hotel berbintang di New York mungkin menarik untuk disimak. Ketika pewawancara memberinya satu menit untuk bercerita tentang dirinya, Eliana mengatakan "Saya Eliana Burthon, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di koran sekolah. Disitu saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar saya dan berhubungan dengan mereka. Dari situ saya sadar alangkah menariknya bisa bertemu dengan orang banyak, berdiskusi dan mengetahui banyak hal dari mereka. Diluar itu, saya senang musik, membaca dan traveling.Ketika kuliah, saya sering menulis pengalaman jalan-jalan saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang sedang laris untuk koran kampus saya."

Meski tak memberikan jawaban yang berbunga-bunga, apa yang diungkapkan Eliana tentang dirinya menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan punya rasa ingin tahu. "Jawaban itu cerdas dan efektif untuk menggambarkan bagaimana dia menyatakan secara implisit bahwa dirinya merasa layak ditempatkan di posisi yang diincarnya. Pewawancara butuh jawaban seperti itu. Cukup singkat, tapi menunjukkan optimisme yang alamiah," kata Erina Collins.

Kalau anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa anda menjadi diri sendiri adalah yang terpenting. Pewawancara tidak butuh jawaban yang berbunga- bunga, berapi-api apalagi munafik.

Pada kesempatan pertama, mereka biasanya ingin melihat bagaimana si pelamar menghargai diri sendiri. Sebab itu, buatlah beberapa poin tentang kemahiran anda, hal-hal yang anda sukai dan inginkan untuk masa depan anda. Kalau telah menemukan poin -poin itu, berlatihlah mengemukakan semua itu dalam sebuah jawaban singkat yang cerdas dan optimis.

2. Hati-hati pertanyaan jebakan
Siapapun idealnya tak suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Tapi begitulah kenyataannya ketika anda diwawancara. Seringkali banyak hal tak terduga yang dilontarkan si pewawancara dan membuat anda seringkali kelepasan bicara. Dalam hal ini, Erina memberi contoh pengalamannya ketika mewawancarai seorang pelamar tentang mengapa ia memutuskan pindah kerja.

"Ketika itu saya tanya 'apa yang membuat anda memutuskan pindah kerja?
tadi anda bilang, lingkungan kerjanya cukup nyaman kan?' dan pelamar itu menjawab 'saya tidak suka bos saya. Seringkali ia membuat saya jengkel dengan pekerjaan-pekerjaan tambahan dan itupun tidak membuat gaji saya naik.'Saya lalu berpikir, apa yang akan dia katakan jika suatu saat keluar dari perusahaan saya tentulah tak beda buruknya dengan apa yang dia ungkapkan pada saya tentang perusahaan lamanya,"
ungkap Erina.

Poinnya, taktislah dalam memberi jawaban. Jangan pernah memberi jawaban yang menjelekkan tempat kerja anda yang lama atau apapun yang konotasinya negatif. Lebih baik kalau anda menjawab "saya menginginkan ritme kerja yang teratur dan terjadwal.

Mengenai gaji, sebenarnya di tempat kerja yang lama tak ada masalah, tapi tentu saya senang kalau ada peluang untuk peningkatan gaji." Atau kalau anda ditanya tentang kelemahan anda, lebih baik tidak menjawab "saya sering telat dan lupa waktu." Tetapi jawablah lebih taktis, misalnya "kadang saya memang pelupa, tetapi beberapa waktu ini sudah membaik karena saya selalu mencatat segalanya di buku agenda." atau "saya sering kesal kalau kerja dengan rekan yang lamban, tetapi sebisanya kami berdiskusi bagaimana caranya menyelesaikan kerja dengan lebih cepat."

Dalam wawancara, si pewawancara selalu berupaya mengorek sedapat mungkin tentang kepribadian pelamar. Kadang pertanyaan sepele seperti "Sudah punya pacar? Ada niat menikah dalam waktu dekat?" sering ditanggapi buru-buru oleh si pelamar dengan menjawab misalnya "Sudah, rencananya kami akan menikah akhir tahun ini." Padahal, menurut Erina, jawaban itu bisa jadi penutup peluang kerja anda. "Perusahaan selalu ingin diyakinkan bahwa calon karyawannya hanya akan fokus pada pekerjaan mereka, terutama pada awal masa kerja.

Jawaban bahwa anda akan menikah dalam waktu dekat justru menunjukkan bahwa perusahaan bukanlah fokus anda yang sebenarnya, tetapi hanya seperti selingan," ujar Erina sambil menambahkan bahwa akan lebih baik kalau anda menjawab "sudah, tapi sebenarnya saya ingin mempunyai pengalaman kerja yang cukup sebelum memutuskan untuk menikah."

3. Semangat dan bahasa tubuh
Dalam wawancara kerja, penampilan memang bukan nomor satu tetapi menjadi pendukung yang ikut menentukan. Karena itu selain berpakaian rapi, tidak seronok, mencolok atau banyak pernik, tunjukkan bahasa tubuh yang baik. Jangan pernah melipat tangan di dada pada saat wawancara, karena memberi kesan bahwa anda seorang yang kaku dan defensif. Idealnya, tangan dibiarkan bebas untuk mengekspresikan kata-kata anda, tentu saja dengan tidak berlebihan.


Selama wawancara berlangsung, buatlah kontak mata yang intens. Pelamar yang sering membuat kontak mata menunjukkan keinginan untuk dipercaya serta kesungguhan memberikan jawaban. Rilekslah dan sesekali tersenyum untuk menunjukkan bahwa anda pribadi yang hangat. Umumnya, perusahaan menyukai pelamar yang menyenangkan. Kurangi kata-kata "saya merasa..." atau "saya kurang..." dan sebaiknya gunakan "saya pikir...", "menurut pendapat saya..", "saya yakin...", "saya optimis...". Kata-kata "saya merasa ..." atau "saya kurang..." mengesankan anda lebih sering menduga, menggunakan perasaan, tidak terlalu percaya diri dan tidak menguasai persoalan.

Cara berpakaian yang baik dalam wawancara
Berpakaian yang "baik" dalam wawancara memang tidak dapat digeneralisasikan karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan- kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain:

• Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang akan mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau "kebiasaan" berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau bahkan ada yang bebas. Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai "orang aneh', disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria disarankan menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan jas. Berpakaian rapih dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa anda menghargai wawancara ini.

• Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (mis.,mengkilap, ngejreng).
• Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rokbawah, kancing baju atasan).
• Berpakaian dengan disain yang simple (tidak telalu banyak pernik-pernik, toch ini bukan acara pesta).
• Tidak berlebihan dalam menggunakan wangi-wangian dan perhiasan.

Berapa gaji yang anda minta ?
Bila dalam wawancara, Anda ditanya berapa gaji yang anda inginkan, bagaimana cara menjawab pertanyaan itu dengan baik tanpa menimbulkan kesan bahwa Anda pencari gaji tinggi atau memberi kesan berapapun imbalan yang diberikan Anda mau.

Pada umumnya perusahaan sudah mempunyai rentang standar gaji untuk jabatan-jabatan yang ditawarkan. Bagi pelamar untuk posisi yang lebih tinggi dan langka biasanya memiliki kekuatan tawar menawar yang lebih tinggi. Jadi dalam menjawab pertanyaan tersebut anda harus memperoleh gambaran dulu imbalan total yang akan anda terima dalam setahun.

Imbalan total adalah gaji dan tunjangan lain yang diberikan termasuk insentif dan bonus. Selain itu perlu ditanyakan apakah imbalan yang ditawarkan itu termasuk PPH atau netto.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut jawablah imbalan yang anda harapkan setahun. Berdasarkan harga pasar yang sesuai untuk jabatan tersebut serta nilai tambah yang anda miliki. Jawablah dengan diplomatis: " Saya berpendapat perusahaan ini pasti sudah mempunyai standar imbalan bagi jabatan ini.

Berdasarkan pengalaman yang saya miliki dan kontribusi yang dapat saya berikan pada perusahaan ini, saya mengharapkan imbalan yang akan diberikan adalah minimal Rp. .../tahun ditambah fasilitas-fasilitas lain sesuai dengan peraturan perusahaan.

Negosiasi mengenai gaji pada saat ini tidak lagi dipandang tabu oleh sebagian besar perusahaan, namun anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu agar dapat bernegosiasi dengan baik.

Variasi pertanyaan dalam wawancara

Bagi pelamar terutama bagi pemula pencari kerja perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapi.

Berikut ini kami berikan variasi-variasi pertanyaan yang kerap muncul dalam wawancara:

Pertanyaan mengenai riwayat pendidikan :

• Mengapa anda memilih jurusan tersebut?
• Mata pelajaran apa yang anda paling suka, jelaskan alasannya.
• Mata pelajaran apa yang kurang anda sukai, jelaskan alasannya.
• Pada tingkat pendidikan mana anda merasa paling berprestasi, mengapa?
• Apakah hasil ujian menggambarkan potensi anda, jelaskan?
• Siapakah yang membiayai studi anda?
• Bagaimana teman-teman atau guru mengambarkan mengenai diri anda?
• Dalam lingkungan macam apakah anda merasa dapat bekerja paling baik?

Pertanyaan mengenai pengalaman kerja :

• Ceritakan mengenai pengalaman kerja anda • Bagi yang belum pernah bekerja pada umumnya diminta untuk menceritakan mengenai aktivitas ekstra kurikuler selama studi.
• Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda, mohon dijelaskan.
• Pekerjaan manakah yang paling menantang bagi anda dan bagaimana anda menyelesaikan hal tersebut
• Dengan kolega macam apakah anda senang bekerja sama?
• Dengan boss macam apakah anda senang bekerja?
• Bagaimanakah anda memperlakuan anak buah anda?

Pertanyaan mengenai sasaran anda :
• Mengapa anda ingin bekerja dalam industri ini?
• Apakah yang mendorong anda melamar kepada perusahaan kami?
• Apakah yang anda inginkan dalam 5 tahun mendatang?
• Apakah yang anda inginkan dalam hidup anda?
• Apa yang anda lakukan untuk mencapai sasaran anda?

Pertanyaan mengenai organisasi yang ingin anda masuki :
• Apakah yang anda ketahui tentang organisasi yang akan anda masuki?
• Menurut anda faktor faktor sukses apa yang dibutuhkan seseorang untuk bekerja disini?
• Apakah yang anda cari dalam bekerja?
• Bagaimana anda dapat berkontribusi dalam perusahaan ini?
• Menurut anda apa visi dan misi dari organisasi ini?

Nah, siap bersaing di dunia kerja? Yang penting, persiapkan diri anda dengan baik dan jangan pernah meremehkan pertanyaan sekecil apapun dalam wawancara kerja. Selamat bersaing!


CV = Kesuksesan Anda (Jika anda mengelolanya dengan benar)

Curiculum Vitae (CV) anda ibarat cermin bagi perekrut di perusahaan yang anda lamar. Dengan membacanya, seorang rekruiter akan segera bisa membayangkan seperti apa anda, bahkan sebelum mereka melihat anda. Profesionalkah, lamban atau tukang mengeluh?. Karenanya,berhati-hatilah dalam membuat Curiculum Vitae (CV) atau daftar riwayat hidup anda.Kalau salah memasukkan informasi, bukan tak mungkin kesempatan anda melayang.

1. Wajah CV.
Siapa yang tidak menyukai wajah cantik atau penampilan menarik? perumpamaan itupun berlaku ketika anda membuat CV. Sekalipun anda pintar dan profesional, perekrut tak akan tertarik membaca CV anda jika terlihat tidak menarik. Karenanya, kertas dan huruf adalah hal yang perlu diperhatikan dengan seksama untuk memastikan CV anda dibaca sampai selesai.

a. Kertas :
Jangan menggunakan kertas bergaris, berwarna atau yang desainnya meriah.Kesan yang timbul dengan menggunakan kertas jenis ini adalah : tidak profesional dan kuno.Sebaiknya gunakan kertas HVS putih polos dan ketik lamaran anda menggunakan komputer. Jangan pernah mengirimkan fotokopi CV, karena anda akan dianggap tidak menghargai perusahaan yang anda lamar. Biasakan mengeprint beberapa set CV anda sekaligus, sehingga anda tak akan kerepotan ketika tiba-tiba harus mengirim lamaran.

b. Huruf :
Usahakan mengetik CV anda dengan komputer, karena akan lebih terjamin kerapihannya dibanding kalau anda menggunakan mesin tik manual.Untuk jenis huruf yang pantas dalam pengetikan CV, gunakan pilihan huruf yang sederhana tapi jelas terbaca, misalnya : Arial atau Times New Roman. Jangan memilih huruf yang membuat efek ukiran, karena akan memusingkan orang yang membacanya dan mengesankan anda seorang amatiran. Gunakan tinta hitam.

2. Isi CV
Untuk 'menjual' diri anda pada perusahaan yang anda lamar, sebaiknya kemukakan hal-hal yang pantas diketahui. Adalah hal yang mutlak untuk menampakkan kejujuran dalam CV anda, tetapi bukan berarti anda mengobral diri anda dengan menuliskan hal-hal yang tidak perlu, misalnya tinggi dan berat badan, kondisi kesehatan atau jumlah anak.

a. Data diri :
Pada bagian ini jelaskanlah hal-hal yang secara prinsip harus diketahui perusahaan tempat anda melamar, yaitu: nama lengkap, tempat/tanggal lahir, alamat dan nomor telephone.

b. Pendidikan:
Pada bagian ini yang perlu disebutkan adalah sertifikat yang berkaitan dengan pendidikan formal anda, nama lembaga pendidikan tempat anda pernah menimba ilmu, bidang studi, prestasi, penghargaan atau kursus yang signifikan dengan pendidikan anda. Kalau anda pernah mendapatkan beasiswa, penghargaan sebagai pemenang lomba karya tulis atau pernah kursus bahasa asing atau komputer, maka tuliskanlah dengan singkat dan jelas.

c. Pengalaman Kerja :
Sebutkan dengan singkat dan jelas di perusahaan mana saja anda pernah bekerja.
Jika anda pernah bekerja kurang dari enam bulan di suatu perusahaan, sebaiknya jangan ditulis kecuali ada hal khusus yang anda yakini baik untuk perkembangan karir anda.Tuliskan dengan singkat apakah anda pernah mempunyai prestasi di tempat kerja anda yang lama. Hindari untuk menyebutkan nama bos anda yang lama atau nomor telephone perusahaan anda yang lama.

d. Aktivitas dan keterampilan khusus:
Point ini sifatnya tidak harus. Jika anda memang mempunyai kegiatan atau keterampilan yang memang mendukung, tuliskanlah. Misalnya: mengikuti perkumpulan filateli, sekretaris atau punya keterampilan menulis steno, manajemen dll.

e. Minat :
Sebutkan dengan singkat minat anda yang anda yakin positif dan signifikan untuk peningkatan karir anda.
Jika anda kesulitan dalam menyusun CV anda supaya lebih menarik, maka tidak ada salahnya kalau minta bantuan konsultan CV Builder yang berpengalaman.

Friday, August 6, 2010

Gaya Manajemen Nan Elegan dari Apple

 
iMac, iPod, iTunes, dan iPhone sungguh merupakan deretan karya teknologi yang amat estetik. Deretan produk elegan dengan sentuhan seni yang mengesankan. Deretan produk yang barangkali ingin menggapai dengan sepenuh hati apa itu makna keindahan yang sempurna. Dan melalui deretan produk inilah, Apple kemudian menyeruak menjadi pendekar paling tangguh dalam era konvergensi digital masa depan.

Dalam lima tahun terakhir, Apple memang terus bergerak menggapai langit prestasi. Setelah produk iPod-nya melambung dan membuat para petinggi Sony kelabakan, kini Apple hendak menggoyang kedigdayaan Nokia dengan produknya yang memukau, iPhone. Sementara jutaan orang setiap hari mengunjungi kios musiknya via
iTunes. Pendeknya, menyaksikan kisah Apple ibarat menikmati jus apel yang segar dan menyehatkan. Lalu, apa sesungguhnya faktor kunci dibalik menjulangnya kerajaan Apple? Penyelidikan terhadap proses bisnis yang dilakoni oleh Apple membawa kita pada tiga elemen kunci yang mungkin bisa menjelaskan kejayaan perusahaan dari Cupertino, California ini. Elemen yang pertama dan mungkin paling vital adalah eksistensi sang CEO dan juga pendiri, Steve Jobs. Tak pelak, pria yang suka berpenamilan casual ini merupakan figur kunci dibalik ketangguhan Apple. Melalui visinya yang tajam dan citarasa yang kuat akan produkproduk teknologi berestetika, Steve telah menjelmakan dirinya sebagai jangkar yang amat menentukan ke arah mana bahtera Apple hendak dilayarkan.

Pertautan Steve Jobs dengan Apple sendiri merupakan sebuah kisah yang panjang nan berliku. Pria yang drop out saat kuliah di semester pertama ini mendirikan perusahaan Apple ketika usianya baru masuk 22 tahun (!) dari sebuah garasi mobil di rumah kontrakan. Di tahun-tahun awal berdirinya pada pertengahan tahun 70-an, Apple sempat mengguncang dunia dengan mengeluarkan produk personal computer pertama di dunia. Namun seiring berjalannya waktu, nasib Steve Jobs sendiri justru berakhir tragis : pada tahun 1986 ia justru dipecat dari Apple. Sejak ia pergi, Apple limbung dan didera kegagalan demi kegagalan.
 

Setelah sempat berpetualang dengan mendirikan perusahaan Pixar (yang memproduksi film animasi sukses seperti Toy Story, Finding Nemo dan Cars), Steve Jobs melakukan langkah comeback : kembali direkrut untuk mengomandani Apple. Saat itu, tahun 1997, Apple tengah berada pada titik nadir, dan banyak orang meramalkan perusahaan ini sebentar lagi akan masuk liang kubur. Senjakala kematian mengintai dan mereka tak yakin Steve Jobs mampu menjelmakan dirinya menjadi sang dewa penyelamat. Toh sejarah kemudian menjadi saksi : betapa Steve Jobs telah melakukan proses comeback yang spektakuler. Steve Jobs sendiri sejatinya merupakan figur yang unik. Brilian, memiliki kepekaan seni yang mumpuni (ia pernah belajar kaligrafi), namun sekaligus memiliki sense of strong leadership. Pada sisi lain, Steve adalah pribadi yang selalu memburu titik kesempurnaan – baik pada aspek desain ataupun dalam proses manufakturing beragam lini produknya. Begitu ia yakin dengan visi desain produknya, maka ia akan bekerja mati-matian bersama para engineernya untuk memastikan agar desain itu benarbenar dapat diproduksi dengan penuh kesempurnaan. 
 
Kisah penciptaan iPod dan iPhone barangkali tak akan pernah terjadi tanpa sikap perfeksionis dan sekaligus proses kepemimpinan yang kuat dari Steve Jobs. Elemen kedua yang menjadi penentu keberhasilan Apple adalah ini : sinergi yang sempurna antara beragam tim – baik tim desain, tim software, dan tim hardware. Semua melakukan kolaborasi secara paralel dan simultan. Proses penciptaan produk di Apple tidak dilakukan secara setahap demi setahap, dimana setelah desain selesai lalu diserahkan ke bagian software, lalu diteruskan lagi ke bagian hardware. Sebaliknya, dalam prosesnya semua aspek ini dikerjakan bersama-sama secara simultan. “Essentially it means that products don’t pass from team to team. It’s simultaneous and organic. Products get worked on in parallel by all departments at once — design, hardware, software — in endless rounds of interdisciplinary design reviews,”demikian tulis majalah Time dalam salah satu liputannya yang memikat tentang Apple.

Elemen yang terakhir mungkin lebih jarang diketahui orang. Elemen ini adalah hadirnya sang jenius lain bernama Jonathan Ive yang menjabat sebagai Chief Design Apple. Jonathan Ive adalah seorang desainer produk brilian yang telah memiliki peran amat sentral dalam sejarah kelahiran produk-produk legendaris Apple. Ive-lah yang menjadi otak dibalik lahirnya produk iMac, iPod dan iPhone. Dengan kata lain, sosok inilah yang dengan jitu menerjemahkan visi Steve Jobs menjadi kenyataan melalui rangkaian produk yang elegan dan penuh nuansa keindahan.

Demikianlah tiga elemen kunci yang kira-kira bisa menjelaskan tentang melambungnya prestasi Apple. Jika kita telisik, ketiga elemen ini semuanya bermuara pada people management : elemen yang pertama tentang leadership yang kuat dan visioner, yang kedua tentang kekuatan sinergi, dan yang ketiga tentang pengembangan kompetensi dan keahlian. Rangkaian produk Apple selama ini memang selalu menebarkan pesona yang menggetarkan. Namun dibalik itu semua, mereka juga telah memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana menjalankan proses people management secara elegan.
 

Psikologi dan Hukum


Ilmu Hukum Dan Ilmu Psikologi 

Semakin kompleksnya masyarakat, semakin menimbulkan banyak permasalahan dan akibatnya menuntut sebuah ilmu untuk terus berkembang guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Psikologi, sebagai sebuah ilmu juga dituntut untuk dapat diaplikasikan dalam berbagai permasalahan yang timbul dalam masyarakat. Aplikasi psikologi terhadap bidang permasalahan-permasalahan tertentu memunculkan bidang kajian baru. Aplikasi psikologi pada bidang kesehatan memunculkan psikologi kesehatan, aplikasi psikologi pada bidang lingkungan memunculkan psikologi lingkungan, aplikasi psikologi pada bidang hukum memunculkan psikologi hukum, dan masih banyak kajian psikologi lainnya.





Perkembangan psikologi hukum berawal dari pidato Freud tahun 1906 dihadapan para hakim. Freud menyatakan psikologi dapat diterapkan dalam bidang hukum. Hal ini dilanjutkan oleh Hugo Munsterberg, seorang ahli eksperimental, tahun 1908 yang menyatakan prinsip psikologi dapat diterapkan dalam semua peristiwa termasuk peristiwa di ruang pengadilan. Bidang psikologi hukum baru berkembang pesat pada dua dekade terakhir ini (Sitat dalam Bringham, 1991). 


Pada tahun 1927, dekan Fakultas Hukum Yale menunjuk seorang psikolog sebagai dosen di sana dalam upaya untuk ”membuat peran hukum di dalam prediksi dan pengontrolan perilaku menjadi jelas” (Schegel, 1979) optimisme terhadap potensi kemitraan antara hukum dan psikologi meluas di dalam tulisan-tulisan yang muncul pada saat itu. Pada tahun 1930, jurnal The American Bar Association mengumumkan bahwa ”Saatnya telah tiba, di mana pengumpulan fakta berdasarkan cara psikologi modern harus diakui oleh para pembuat hukum kita terlepas dari huru-hara yang mungkin akan timbul di dalam institusi-institusi yang mapan” (Cantor dalam D. Soedjono, SH, 1983).

Gerakan kaum realis adalah contoh awal pengaruh psikologi terhadap hukum. Dua orang psychologist-philosopher terkemuka saat itu – William James dan James Dewey - memperjuangkan ide-ide pragmatisme, induksi, dan pendekatan-pendekatan ilmiah di dalam kajian isu-isu sosial (James, 1907; Dewey, 1929). Para realis hukum menangkap ide bahwa hukum dibutuhkan untuk secara pragmatis mendukung kebaikan bersama dan memanfaatkan penelitian ilmu sosial. Pada tahun 1931, Karl Llewellyn, seorang pemimpin gerakan realis, menyebutkan beberapa prinsip pokok ; (1) karena masyarakat selalu berfluktuasi dengan lebih cepat dibanding hukum, maka hukum harus senantiasa diperiksa kembali untuk memastikan bahwa ia dapat melayani masyarakat dengan baik; (2) hukum adalah ”sarana untuk mencapai tujuan sosial dan bukan untuk tujuan itu sendiri” dan (3) hukum harus dievaluasi efek-efeknya (Llewellyn dalam D. Soedjono, SH, 1983). Rekonseptualisasi realisme terhadap hukum merupakan sukses besar. Prinsip-prinsip fundamental Lewellyn saat ini diterima nyaris secara universal di kalangan masyarakat hukum.

Di dalam masyarakat psikologi yang lebih luas, ada keinginan kuat untuk menemukan berbagai cara untuk menerapkan teori dan penelitian di bidang-bidang seperti hukum. Di dalam pidato presidensialnya untuk the American Psychological Association pada tahun 1969, George Miller menuntut agar ”memberikan kesempatan kepada psikologi untuk turut menyumbang” menggunakan pengetahuan psikologis untuk menjawab masalah-masalah sosial berat (Miller, 1969). Di tahun yang sama, Donald Campbell menuntut penggunaan yang jauh lebih ekstensif dari metode-metode yang telah diprakarsai olehnya dan oleh ilmuwan-ilmuwan sosial lainnya. Para psikolog yang tertarik pada sistem hukum juga merasa optimis terhadap berbagai kemungkinan psikologis, terutama terkait peran psikologi dalam sistem hukum. Pada tahun 1969, mereka mendirikan The American Psychology-Law Society (AP-LS), yang menyatakan bahwa ”Hanya ada sedikit bidang antardispliner yang memiliki begitu banyak potensi untuk memperbaiki kondisi manusia” (Grisso, 1991). 

Keterkaitan psikologi dan hukum yang pasang-surut itu belum dapat berkembang menjadi hubungan yang mantap sampai akhir tahun 1970-an. Terbitan utama jurnal utama APLS – Law and Human Behavior – muncul pada tahun 1977. Sejak itu, beberapa jurnal yang menampilkan penelitian dan teori psikolegal mulai bermunculan (misalnya Law and Society Review; Criminal Justice and Behavior; Behavioral Sciences and the Law; dan Psychology, Public Policy, and Law). Hubungan antara kedua disiplin itu menjadi semakin luas dan mendalam selama 25 tahun terakhir. Ini jelas merupakan boom time untuk bidang lain (politik, olahraga, ekonomi). Masa depannya mungkin tidak pasti, tetapi ada alasan untuk merasa optimis.

Proses pasang surut perkembangan psikologi hukum akhirnya menghasilkan sebuah gagasan utuh yang dituangkan dalam sebuah definisi yang bisa mewakili kedua belah pihak yang pada awalnya berseteru satu sama lain. Psikologi hukum, yakni suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan dari pada perkembangan jiwa manusia. (Drever J.A., Dictionary of Psycholohy Penguin Books 1976 dalam Purbacaraka, Soekanto, 1978). Menurut Purbacaraka & Soekanto cabang ilmu hukum yang bernama psikologi hukum ini termasuk ilmu tentang kenyataan, yang menyoroti hukum sebagai perikelakukan atau sikap tindakan, yang antara lain mencakup beberapa cabang metode studi yang berusaha mempelajari hukum secara mendalam dari berbagai sudut pandang: yaitu sosiologi hukum, antropologi- hukum, psikologi hukum, perbandingan hukum dan sejarah hukum. (Purbacaraka, Soekanto, 1978)
Psikologi hukum merupakan aplikasi psikologi dalam bidang hukum. Luasnya bidang hukum menyebabkan bidang kajian hukum juga menjadi luas. Haney (Sitat dalam C.R. Bartol & A.M. Bartol, 1994) dan Blackburn (Sitat dalam Kaprdis,1997) mengemukakan penerapan psikologi dalam bidang hukum dapat dibedakan menjadi tiga hal berikut ini. 

1. Psychology in Law
Hubungan ini hukum lebih memiliki inisiatif dibanding psikologi. Para pelaku hukum akan mengundang psikolog jka mereka diperlukan. Dapat dikatakan bahwa psikologi diterapkan secara terbatas sesuai dengan standar hukum, sehingga peran psikologi tidak dapat maksimal. Contoh ketika seorang terdakwa diragukan apakah secara mental dapat bertanggungjawab atas perbuatan pidana yang dilakukannya, hakim akan meminta psikolog untuk menentukan kondisi mental terdakwa. Di Indonesia, peran ini banyak dilakukan oleh psikiater, seperti kasus mantan Presiden Suharto yang diajukan di peradilan beberapa saat lalu. Dalam kasus kesaksian yang tidak reliabel (seperti kasus yang melibatkan saksi anak-anak), kadang juga membutuhkan psikolog. 

2. Psychology and Law
Hubungan ini tidak ada yang dominan, psikologi dipandang sebagai disiplin yang mengevaluasi dan menganalisis berbagai komponen hukum dari perspektif psikologi. Psikologi mengembangkan penelitian dan teori dalam bidang psikologi pada permaslahan-permasalahan hukum. Contohnya penelitian psikologi tentang terdakwa, pengacara, hakim, saksi, polisi. Penelitian ini kemudian dijadikan masukan untuk dapat mengembangkan sistem hukum. 

3. Psychology of Law
Hukum dipandang sebagai penentu perilaku manusia. Psikologi berusaha memberikan penjelasan bagaimana dan mengapa hukum dapat menentukan perilaku. Contohnya permasalahan tentang mengapa masyarakat kini tidak patuh hukum? Apakah hukuman mati dapat mengurangi kriminalitas? Faktor psikologis apa yang menyebabkan seseorang bersedia melanggar hukum ketika diperintah oleh otoritas? (seperti kasus penembakan mahasiswa Trisakti oleh aparat, Tragedi Jakarta, 1998).
Pendapat Haney dan Balckburn yang muncul sekitar tahun 1980 ini sebenarnya dalam usaha memberikan gambaran betapa pesatnya perkembangan psikologi hukum di negara barat. Di Inggris sudah sejak 1970-an, di Australia sejak tahun 1980, dan di Amerika Utara sejak 1960-an (Kapardis,1997). Berbagai macam teori dan penelitian dalam psikologi hukum muncul sebagai respon atas permasalahan yang berkembang dalam masyarakat, sehingga (Haney dan Blackburn) mulai mewadahinya dalam tiga istilah diatas. Demikian luasnya kajian psikologi hukum menyebabkan munculnya bidang-bidang baru di bawah kajian psikologi hukum seperti psikologi forensik (yang menyoroti permasalahan peradilan di pengadilan).

Kajian-kajian yang banyak dilakukan bidang psikologi hukum banyak tertarik pada hukum pidana, walaupun saat ini sudah banyak pula yang melakukan kajian pada hukum perdata. Pada hukum pidana, kajian yang banyak dilakukan antara lain pada (Kapardis, 1997; C.R. Bartol &A.M.Bartol, 1994):
a. Perilaku kejahatan.
b. Lembaga pemasyarakatan.
c. Kepolisian.
d. Saksi.
e. Jaksa.
f. Pengacara.
g. Hakim.
h. Korban kejahatan.
i. Undang-undang. Psikolog juga sangat membantu menyusun undang-undang, seperti undang-undang tentang hak anak, undang-undang yang lain. Lebih penting, psikolog diperlakukan menyelesaikan undang-undang.